Gejala yang Muncul Setelah Kuret

Kamis, 29 September 2011



Jakarta, Ibu hamil yang mengalami keguguran biasanya melakukan prosedur kuret. Usai melakukan kuret biasanya akan muncul gejala-gejala yang tidak boleh diabaikan karena jika didiamkan akan memicu komplikasi. Apa saja gejalanya?

Kuret adalah suatu proses yang dilakukan untuk mengikis lapisan rahim (endometrium). Proses ini biasanya dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang tersisa di dalam rahim. Umumnya proses ini dilakukan dalam waktu 5 menit saja.

Sebelum melakukan kuret, dokter ginekologi akan memeriksa terlebih dahulu apakah masih terdapat sisa jaringan di rahim atau tidak, hal ini untuk menghindari perdarahan hebat dan juga mencegah infeksi rahim.

Cara yang dilakukan adalah menggunakan scan ultrasound. Jika keguguran terjadi pada tahap awal kehamilan dan jaringan yang tersisa sangat sedikit, maka kuret tidak perlu dilakukan tapi hanya diberikan obat saja.

Dikutip dari Netdoctor, Kamis (19/8/2010) dokter akan memberikan obat anestesi terlebih dahulu sebelum kuret. Setelah itu dokter akan membuka mulut rahim dengan menggunakan alat yang disebut dengan dilator, dan kemudian memasukkan alat melalui leher rahim untuk mengeluarkan jaringan sisa yang masih terdapat di dalam rahim. Saat dikuret rasannya sangat tidak nyaman dan juga sakit selama beberapa waktu.

Jika dalam proses ini tidak dilakukan dengan benar seperti masih ada jaringan yang tersisa di dalam rahim atau kuret yang dilakukan terlalu berlebihan, maka akan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.

Gejala yang muncul jika terdapat komplikasi akibat kuret adalah:

  1. Perdarahan hebat yang terkadang disertai dengan adanya gumpalan besar.
  2. Rasa nyeri atau sakit pada perut bagian bawah.
  3. Terjadinya perubahan cairan vagina seperti keputihan dan berbau.
  4. Mengalami demam dengan suhu yang tinggi.
  5. Mengalami menstruasi yang tidak normal sebulan setelah kuret.

Sebaiknya kondisi-kondisi tersebut tidak diabaikan oleh perempuan yang melakukan kuret, karena ada kemungkinan terjadi komplikasi atau gangguan.

Risiko yang bisa terjadi adalah perdarahan, timbulnya infeksi akibat masih adanya jaringan yang tersisa atau timbulnya lubang pada rahim (uterine perforation) akibat pengikisan yang terlalu dalam karena dinding rahim orang yang baru hamil sangat lembut.

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi dari dinding rahim sehingga bisa ditentukan langkah medis apa untuk mendapatkan penanganan yang tepat.


SUMBER:

0 komentar:

Pasang emoticon dibawah ini dengan mencantumkan kode di samping kanan gambar.

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q:

Poskan Komentar

Silahkan komentar dengan isi artikel yang terkait, No Spam!!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...