Kisah TKI Asal Bali yang Bergaji Puluhan Juta di Seychelles Islands

Kamis, 15 Desember 2011

Siapa bilang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri selalu sulit? Banyak kisah yang menceritakan pengalaman sukses para TKI di luar negeri, dengan gaji yang melimpah dan jabatan yang prestisius. Inilah yang dialami oleh Made, pria asal Bali yang memiliki gaji puluhan juta rupiah per bulan.

Jabatan made tak main-main. Dia menjadi Manager House Keeping di Ephilia Resort di Kepulauan Seychelles. Malang melintang di dunia perhotelan, akhirnya Made 'terdampar' di pulau yang terletak di tengah Samudera Hindia yang sangat terpencil, dan jauh dari peradaban.

"Saya bekerja di sini sudah 8 bulan," kata Made mengawali obrolan usai makan siang bersama rombongan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di resor tempat Made bekerja, Ehilia Resort yang terletak di pulau terbesar di Seychelles Island, Kamis (14/12/2011).

Tak tanggung-tanggung, dengan jabatannya sekarang, pria yang logat Balinya masih kental ini, mendapatkan gaji US$ 2.800 per bulan. Jika dirupiahkan, tiap bulan Made bisa merogoh kocek tak kurang dari Rp 25 juta. Jumlah gaji tersebut bisa utuh karena selama di Seychelles, Made mendapatkan fasilitas makan sehari tiga kali, serta tempat tinggal ditanggung oleh tempat dia bekerja.

Made diuntungkan dengan kondisi Seychelles Islands yang terpencil. Tidak ada mal dan pusat perbelanjaan di sini, sehingga gaji bulanannya tidak terganggu.

Tapi apakah kerasan kerja di sini? "Kerasan karena uangnya," jawab Made sambil tertawa bercanda.

Saat ini, Made membawahi ratusan house keeping di resor mewah tersebut. Bawahannya pun terdiri dari berbagai bangsa. Ada yang berasal dari India, Filipina, keturunan Arab, bule, dan juga ada warga negara Indonesia.

Bicara soal tenaga kerja asal Indonesia di Ephelia Resort, total jumlahnya ada 7 orang, termasuk Made. Sisanya, satu orang asisten Made bernama Johan yang juga lahir dan besar di Bali, namun keturunan NTT. Sementara lima orang lainnya adalah para ahli spa asal Bali dan Yogyakarta, yang semuanya adalah perempuan.

Sebagai asisten Made, Johan gajinya juga menggiurkan. Pria yang yang pernah melalangbuana di beberapa hotel ternama di Indonesia dan Arab Saudi ini saat ini digaji USD 1.000 Per bulan. Gaji tersebut belum termasuk tambahan lainnya, seperti service charge yang jumlahnya bervariasi, rata-rata US$ 150 Per bulan.

Johan yang berpengalaman bertahun-tahun di bidang house keeping ini memutuskan untuk pindah ke Seychelles Islands lantaran kecewa dengan gaji di dalam negeri yang kurang bagus. "Untuk posisi seperti saya paling digaji Rp 4 juta," keluhnya.

Sementara para tenaga ahli SPA asal Indonesia digaji antara US$ 650-800. Meski lebih kecil dibandingkan dengan Made dan Johan, jika dibandingkan dengan gaji para spa terapis Indonesia, gaji 5 wanita ini masih tergolong tinggi.

Inilah Video CCTV Suster Ngesot ditendang Satpam



Tuduhan penganiayaan yang ditujukan kepada satpam Galeri Ciumbeuleuit Hotel, Bandung, Sunarya (37) menyusul aksi spontannya menendang Mega Tri Pratiwi (20) hingga lebam dan tanggal giginya masih akan berlanjut.

Sunarya, dalam rekaman video CCTV di dalam lift gedung tersebut terlihat melakukan gerakan spontan dengan menendang sesosok mahluk mirip "suster ngesot" sesaat setelah pintu lift di lantai 17 terbuka. Belakangan diketahui, kejadian pada Sabtu dinihari itu sengaja dilakukan Mega untuk menakut-nakuti sejumlah temannya yang berada satu lift dengan Sunarya.

Benar saja, aksi Mega itu terbilang sukses. Dalam rekaman video terlihat, sejumlah orang yang ada di dalam lift terlihat ketakutan, dan meloncat kembali ke dalam lift saat melihat sosok Mega. Tapi satu hal yang tak terduga justru terjadi. Sunarya yang terlihat sangat spontan, dalam hitungan detik sempat menghujamkan tendangan kaki kanan ke arah sosok yang mengagetkan itu.

Alhasil, Mega terhempas, hingga gigi patah, luka lebam di pelipis, dan sempat tak sadarkan diri. Orang tua Mega yang tidak bisa menerima perlakukan itu, lantas melaporkan pria beranak dua itu atas tuduhan penganiayaan. Seperti yang dilansir TribunJabar, Rabu (14/12/2011), polisi akan memeriksa Sunarya Jumat (16/12/2011) mendatang.

"Kalau yang lima saksi, termasuk saksi korban itu sudah kami periksa. Nah, Satpam yang dilaporkan dituding melakukan penganiayaan baru akan kami periksa Jumat ini," ujar Kepala Hubungan Kemasyarakatan (Kasubag Humas) Polrestabes Bandung, Kompol Endang Sri Wahyu Utami di Mapolrestabes, kemarin.

Dalam menangani kasus ini, polisi sudah memeriksa 5 orang saksi, termasuk Mega. Selain Mega yang juga sebagai saksi korban, juga keempat rekannya yang pada saat kejadian ada di lokasi itu, yaitu berinisial F, B, C, dan M.

Mega diketahui saat itu bersama tujuh orang temannya sedang berlibur di Bandung. Mereka sejak Sabtu berada di GCH. Mega berencana menikmati akhir pekannya di Bandung.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...